Penampilan Sanggar Tari Sunting Emas SMANDALAN yang membawakan tradisi adat pernikahan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) pada kegiatan Rentak Batang hari Provinsi Sumsel mendapat perhatian khusus dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Aufa Syahrizal, S.P., M.Si.  Perhatiannya itu karena ia melihat semua kru yang tampil dalam pagelaran itu adalah generasi milenial.

“Sebelum menyerahkan piagam saya mau sampaikan dulu apresiasi kepada anak-anak muda PALI yang tampil di Pagelaran Rentak Batanghari pada sore hari ini.  Kebetulan sekali saya baru tiba dari PALI, tanda tangan MoU (memorandum of understanding) dengan Pak Bupati.  Pak Bupatinya (Heri Amalindo) sangat mendukung kegiatan kebudayaan dan pariwisata,” terang Aufa Syahrizal.

Usai menyerahkan piagam dan uang pembinaan, Aufa berpose dengan kru Sanggar Tari Sunting Emas SMANDALAN.

Saat berbincang dengan Kepala SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi, Irwansyah,S.Pd.M.Si. Aufa Syahrizal ini mengatakan Pagelaran Seni Batanghari merupakan ajang memperkenalkan potensi budaya unggulan daerah sekaligus upaya melestarikan dan mengembangkan tradisi budaya yang ada di Provinsi Sumsel.

Ketika Kepala SMA Negeri 2 Talang Ubi yang menyampaikan seluruh personel adalah berstatus pelajar, Aufa pun kembali mengapresiasi. “Nah itu kan berarti pemuda belajar mengenal tradisi lokalnya.”

Plt Kepala UPTD Taman budaya Agus Hariyanto yang juga mengapresiasi penampilan perwakilan PALI mengatakan ada 12 perwakilan kabupaten dan kota di Sumsel yang tampil pada Pagelaran Seni Batanghari Provinsi Sumsel Tahun 2021 yang berlangsung pada 5-7 November di Taman Budaya Sriwijaya.

“Penampilan kawan-kawan dari PALI bagus. Tarian bubuh sangat bersemangat. Keren,” ujar  Muhammad Riski, siswa SMAN Sumsel yang menyaksikan penampilan perwakilan PALI.

Perwakilan PALI menampilkan pagelaran adat dengan judul  Dua Masa (Tradisi Pernikahan di Kabupaten PALI).  Penampilan yang dibalut dalam seni teater ini mengisahkan  tokoh suami istri asal Penukal yang pulang ke kampung  halaman setelah puluhan tahun tak mudik. Setelah puluhan tahun tradisi adat masih dilestarikan, kendati ada sedikit pergeseran  diantaranya  pemberian mukun yang selama ini berupa dodol  berubah menjadi mie instan.  Ada pula perubahan pemberian balasan tuan rumah kepada undangan ibu-ibu di acara mipis bumbu.  Bila dulu pemberian nasi dan lauk-pauk dikemas dalam rantang sekarang dikemas dalam wadah besek plastic. Tokoh dalam kisah itu juga merasa adanya perubahan warna lain di acara mipis bumbu, seperti tak tampak lagi kegiatan anak-anak yang bermain permainan tradisional.

Di tengah pergesaran budaya itu, tokoh sangat bangga karena masih kuatnya tradisi adat saat prosesi pernikahan diantaranya penampilan kesenian daerah senjang dan tari daerah pada acara resepsi pernikahan, tradisi mapak (prosesi adat saat pengantin datang  ke rumah mempelai laki-laki sehari setelah acara resepsi yang diwarnai dengan prosesi tabur beras kunyit sebagai lambang kemakmuran), serta tradisi tandang sujud (pengantin  bertandang ke rumah mempelai perempuan  dengan prosesi diantaranya pemberian lemang dari pengantin kepada orangtua,  prosesi sujud pengantin kepada orangtua,  dan pemberian wejangan dari orangtua kepada anaknya.

Kepala SMAN 2  Unggulan, Bapak Irwansyah menambahkan pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Pemkab PALI, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten PALI yang turut memfasilitasi kegiatan tersebut, selain itu saya juga ucapkan terima kasih kepada para pembimbing hebat Smandalan kepada Bapak M. Hikmatiar Arya Bima, S.Pd., Ibu Eka Sri Lestari, S.Pd., Agung Dirga Kusuma, S.Pd., M.Pd., Gr., dan Ibu Dewi Mardaleni, S.Pd. **

Author: Dewi Mardaleni, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Unggulan Talang Ubi)

Post Author: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *